Warga Manfaatkan Sungai Dam Raman Sebagai Budidaya Ikan Air Tawar
Februari 17, 2021
0 comments
Share

Warga Manfaatkan Sungai Dam Raman Sebagai Budidaya Ikan Air Tawar

1 0
Read Time:2 Minute, 34 Second

Buana Media Lampung, Metro — Selain menjadi sumber pengairan bagi petani, Sungai Dam Raman yang berada di Purwosari Kecamatan Metro Utara menjadi lahan bisnis baru bagi peternak ikan media kerambah apung.

Tak hanya itu, Sungai Dam Raman juga sempat menjadi destinasi wisata bagi masyarakat Kota Metro yang sempat viral sebelum masa pendemi covid-19.

Didik Isnanto, salah satu warga Metro Utara yang memanfaatkan sungai tersebut yang kini memiliki empat kotak kerambah apung. Menurutnya di sungai ini sangat cocok untuk membudidayakan berbagai ikan jenis air tawar.

“Saya saat ini sedang membesarkan tiga jenis ikan lele, ikan nila dan ikan mas. Namun untuk warga lain ada yang membudidayakan ikan baung dan patin juga. Ini cocok untuk berbagai jenis ikan air tawar,” kata dia (17/02/2021)

Awalnya ketertarikannya mengembangkan kerambah apung ini karena melihat potensi sumber daya alam yang ada di Kota Metro. Selain menjadi tempat wisata, dirinya juga dapat menjadikan kerambah apung ini sebagai edukasi jika ada yang berminat dalam pembudidayaan ikan air tawar.

“Saya manfaatkan potensi alam yang ada, memang cocok seperti di habitat aslinya,” ujar dia.

Dia menjelaskan, Keunggulan menggunakan kerambah apung ini salah satunya dapat menampung lebih dari volume di bandingkan kolam tanah ataupun kolam yang di buat menggunakan semen. Untuk ikan nya juga lebih cepat besar dan asupan makanan nya lebih hemat, karena di sungai tidak bergantung oleh pakan saja, ada juga makanan bagi bibit ikan yang langsung terbawa oleh arus sungai.

“Kalau menggunakan kerambah apung menurutsaya lebih cepat besar. Seperti ikan lele yang di kolam pada umumnya panen di usia dua sampai tiga bulan, nah di media keramba apung ini di usia 1,5 bulan sudah besar dan sudah bisa di panen. Kemudian untuk isinya juga bisa lebih banyak, kalau di kolam buatan maksimal 3000 benih dan di sini bisa 7000 benih dengan ukuran yang sama,” kata dia.

Sementara untuk kerambah yang saat ini Didik miliki masih ada empat kotak masing-masing kotak berukuran 36 meter persegi atau 6×6 dengan kedalaman dua meter. Dia menggunakan strimin dua lapis, pertama untuk menahan benih agar tidak keluar dan lapisan luar nya berfungsi untuk menahan predator yang akan masuk.

Dia menjelaskan, untuk predator di alam terbuka biasanya ikan-ikan besar. Kemudian ada seperti ular dan biawak untuk jenis reptil nya.

“Predator nya itu ikan-ikan besar, kalau reptil seperti buaya selama saya di sini tidak pernah ada,” ujar dia.

Saat ini Didik akan berkonsentrasi lebih dulu dalam memberikan contoh pembudidayaan media kerambah apung yang dijalani nya.

“Kita harus masuk dulu lebih dalam dan memahami bagaimana pengembang biakan secara maksimal. Setelah itu baru mengajak masyarakat untuk ikut membudidayakan ikan menggunakan kerambah apung. Memang saat ini masih banyak yang belum percaya untuk hasil yang didapat. Makanya ini saya berikan percontohan dulu supaya nanti banyak yang tertarik untuk ikut membudidayakan juga,” kata dia.

Menurutnya tingkat keberhasilan dalam budidaya ikan menggunakan media kerambah apung ini mencapai 80 persen. Dan tingkat kematian bibit ikan nya juga sangat kecil di bandingkan di kolam buatan.

Sementara untuk kendala yang di alaminya adalah ketika turun hujan yang sangat lebat. Dimana keadaan air sangat keruh dan membawa sampah yang mengalir dari hulu. (ars)

haris

haris

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *