Tiga Kecamatan di Lamtim Masuk Zona Merah Peredaran Narkoba
November 17, 2021
Redaksi (71 articles)
0 comments
Share

Tiga Kecamatan di Lamtim Masuk Zona Merah Peredaran Narkoba

0 0
Read Time:3 Minute, 24 Second

LAMPUNGTIMUR – Sebanyak tiga kecamatan di Kabupaten Lampung Timur masuk zona merah peredaran gelap narkoba.

Kepala Satuan Reserse Narkoba (Satreskoba) Polres Lampung Timur, IPTU Iwan Ricad yang diwakili Bripka Indra Solihin menjelaskan, ketiga kecamatan yang rawan peredaran narkoba tersebut ialah Kec. Labuhan Maringgai, Kec. Jabung dan Kec. Sukadana, Lampung Timur.

“Jadi zona merah di Lampung Timur itu lebih kita klasifikasikan wilayahnya ini berdasarkan tingkat penangkapan. Jadi ada tiga daerah yang jadi sorotan intens di Lampung Timur itu, pertama di Maringgai lalu di Sukadana dan ketiga di Jabung,” kata dia saat workshop penguatan media oleh BNN Lampung Timur, Rabu (17/11).

Meski begitu, polisi menyebutkan bahwa peredaran gelap narkoba di Kabupaten Lampung Timur merata di seluruh kecamatan. Dimana, dari 24 kecamatan yang ada, hanya tiga kecamatan saja tempat intens melakukan penangkapan.

“Jadi tiga kecamatan itu sementara untuk tahun ini masuk dalam kategori zona merah di Lampung Timur. Dari 24 kecamatan, tentunya walaupun hanya tiga yang zona merah namun semua kecamatan tetap jadi sorotan. Sebenarnya peredaran narkoba di Lampung Timur ini cukup merata, karena di setiap kecamatan itu rata-rata ada tindak pidana penyalahgunaan narkoba,” bebernya.

Bripka Indra juga menerangkan bahwa, Satnarkoba Polres Lampung Timur telah melakukan empat upaya memutus mata rantai peredaran narkoba.

“Upayanya yang telah dilakukan ada 4, yang pertama preemtif, dengan cara pembinaan Yang kedua preventif, jadi perlu pencegahan. Bisa dilakukan dalam bentuk razia dijalan dan di tempat hiburan seperti yang kita laki. Kemudian ketiga baru penegakan hukum, dan yang ke empat adalah kerjasama dari berbagai pihak untuk melakukan pengungkapan dan pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika,” terangnya.

Sementara itu, untuk memberantas narkoba di Lampung Timur Pemerintah Kabupaten setempat dinilai belum berperan aktif. Sekertaris Kesbangpol Kabupaten Lampung Timur, Rifian Hadi dalam workshop itu membeberkan upayanya untuk menghadirkan Peraturan Daerah (Perda) penanganan Narkoba di Kabupaten setempat.

“Soal kebijakan, lagi-lagi memang pemerintah daerah inikan jarang berkomunikasi. Ketika kita minta adanya regulasi yang berdasarkan Impres terbaru, teman-teman yang dibagian hukum sudah ada perda, tapi perdanya masih satu paket dengan HIV, sementara yang diinginkan BNN adalah perda khusus narkoba. Sehingga dengan situasi seperti itu, saya mencoba membuat draft Raperda dan mendorong ormas dan OKP untuk ikut mendorong draft perda yang kita buat itu, dan alhamdulillah draft perda itu itu sudah diserahkan ke fraksi-fraksi yang ada di Dewan,” jelasnya.

Menurutnya, tanpa campur tangan pemangku kebijakan Perda yang didambakan tersebut dapat diwujudkan dengan mendorong inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten setempat. Ia juga berharap, setelah keluarnya Perda, Bupati Lampung Timur dapat mengeluarkan Peraturan Bupati (Perbub).

“Artinya tanpa eksekutif, kita coba gandeng ormas untuk mendorong menggunakan inisiatif dewan. Jadi dewan yang seolah-olah mengusulkan lahirnya perda ini, buat kita tidak terlalu penting ini diinisiasi oleh siapa, yang penting ada perda dan dapat diturunkan dalam bentuk perbub,” pungkasnya.

Dalam kesempatan itu, Sub Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat BNN Provinsi Lampung, Edy Marjoni mengungkapkan fakta bahwa terdapat 31.811 warga Lampung terlibat penyalahgunaan narkoba.

“Berdasarkan survey yang dilakukan BNN RI dengan Lippi ditahun 2019, diketahui bahwa di provinsi Lampung ini sebanyak 31.811 orang penyalahguna narkotika. Kalau kita asumsikan mereka mengkonsumsi narkotika jenis sabu, maka mereka butuh 764 kilogram pertahun di provinsi Lampung,” ungkapnya.

Jika dirupiahkan, terdapat Rp 1,14 Triliun uang haram narkoba khusus jenis sabu yang beredar di gerbang sumatera. Dari puluhan ribu penyalahguna narkoba di Lampung, baru 1.629 orang saja yang berhasil direhabilitasi.

“Kalau kita uangkan, maka ada 1,14 Triliun uang beredar hanya dari sabu saja di provinsi Lampung pertahunnya. Nah dari 31.811 orang ini yang berhasil kita rehabilitasi di tahun 2020 baru 1.629 orang, yang dikeroyok oleh BNN, kementerian kesehatan dan kementerian sosial,” terangnya.

Pria yang juga merupakan penyuluh Narkoba ahli muda BNN Provinsi Lampung itu mengasumsikan waktu yang dibutuhkan untuk merehabilitasi puluhan ribu penyalahguna narkoba tanpa kasus baru.

“Artinya, jika kita akan merehabilitasi seluruh saudara kita yang jumlahnya 31.811 orang dengan asumsi pertahun 1.629 orang, maka dibutuhkan waktu 19,5 tahun baru bisa menyelesaikan rehabilitasi seluruhnya, itupun jika tidak ada pemakai baru,” tandasnya.

Diharapkan, dengan upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN), kasus penyalahgunaan narkoba di Lampung Timur dapat ditekan. (Red)

Redaksi

Redaksi

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *