Harga Anjlok, Petani Buang Tomat di Jalan
Maret 29, 2022
Redaksi (586 articles)
0 comments
Share

Harga Anjlok, Petani Buang Tomat di Jalan

0 0
Read Time:1 Minute, 48 Second

LAMPUNG BARAT- Para petani tomat di Kabupaten Lampung Barat (Lambar) meradang karena mengalami kerugian, pasalnya harga tomat semakin hari mengalami penurunan. Saat ini harga tomat yang dibeli oleh para pengepul tak sampai Rp1000 per kilogramnya. Selasa (29/3/2022)

Petani sangat mengeluh akibat harga tomat yang sangat anjlok pasalnya harga sayuran tersebut sangat deratis penurunan harganya sehingga sayuran tomat tersebut dibiarkan dan dibuang saja.

Seorang petani sayuran asal Pekon Umbul Lioh kecamatan Balik Bukit Darmawan saat ditemui awak media diperkebunan tomat miliknya menyampaika, sebenarnya tomat yang saya buang dipinggir jalan tersebut awalnya tidak akan saya buang dan saya sudah suruh tetangga sekitar ini untuk mengambilnya klo ada yang mau.

” tetapi mungkin karena malu atau tidak berani mintak sehingga tidak ada yang mengambil dan ahirnya tomat tersebut membusuk dan tidak bisa dimanfaatkan lagi “.

Lanjutnya, Sebelumnya harga tomat pernah mengalami kenaikan harga mencapai Rp4000-6000 ribu per kilogramnya dan saat ini hanya Rp 400 perkilogramnya, akan tetapi saat ini para petani mulai mengeluh dengan anjloknya harga di pasaran. Sehingga para petani tak lagi menjual dengan harga per kilo kepada pengepul, tetapi menjual borongan dengan hitungan per keranjang.

” Harga tomat yang merosot tentu membuat kita rugi, jangankan dapat untung, modal pun tidak bisa balik,” Tambahnya

Adapun dalam kesempatan yang berbeda Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus mengatakan bahwa sebenarnya harga tomat itu bukan turun, karena beberapa waktu yang lalu harga tomat cukup baik berkisar Rp.8000.

“Saya dapat informasi sebetulnya itu bukan dibuang karena tidak laku tetapi karena memang pihak pembeli tidak mau mengambil tomat yang terlalu merah,” Ujarnya

Parosil menyayangkan perbuatan para petani yang membuang tomat-tomat tersebut ke jalan, karena sebetulnya, tomat-tomat itu bisa saja ditawarkan atau diberikan kepada tetangga atau masyarakat.

Diketahui, saat ini di Kecamatan Sukau ada Kelompok Wanita Tani (KWT) yang mengembangkan olahan makanan tomat dengan rasa kurma, Parosil menjelaskan untuk ditawarkan juga dengan KWT yang mengembangkan olahan tomat rasa kurma tersebut.

“Atau mungkin ditawarkan dengan pengusaha-pengusaha lain seperti terkait dengan pengolahan saos, sebenarnya yang paling penting yaitu tingkat kesadaran dari masyarakat itu sendiri,” pungkasnya.

Parosil berharap kedapannya para petani bisa memperlakukan hasil-hasil pertanian dengan cara yang lebih bijak lagi, dan harus bisa bersyukur. Tutupnya (red)

Redaksi

Redaksi

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment