Geliat Layangan di Metro, Dari Hobi Jadi Rezeki
September 26, 2021
0 comments
Share

Geliat Layangan di Metro, Dari Hobi Jadi Rezeki

0 0
Read Time:3 Minute, 0 Second

METRO – Fenomena layangan di Kota Metro kini makin bergeliat. Tak hanya anak-anak, layang-layang kini menjadi hobi baru bagi kaum remaja hingga lanjut usia. Tentunya, dari trend tersebut para penghobi ketiban rejeki.

Fenomena yang digandrungi warga Metro tersebut juga tak terlepas dari peran para pengrajin layang-layang di wilayah perbatasan Kota. Salah satunya ialah di dusun Tanjung Sari, desa Toto Katon, Kec. Punggur, Kab. Lampung Tengah.

Saat media ini mengunjungi kelompok pengrajin layang-layang musiman yang menamai dirinya The Young Kejawen di wilayah pinggiran Metro, terlihat sejumlah remaja sedang asyik menguliti potongan batang bambu.

Selain itu, ada juga yang tengah sibuk merakit lidi bambu, hingga ada pula yang mengaitkan benang dari ujung ke ujung bambu yang kemudian menjadi layangan.

Muhammad Rama Yudhi (18), remaja pengrajin layang-layang itu mengaku, setiap Minggunya menerima order hingga 15 buah layangan berbagai bentuk dan ukuran.

“Ya Alhamdulillah ada yang pesan, dari mulai musim layangan sampai sekarang rata-rata ada 13 sampai 15 pesanan setiap Minggunya. Kebanyakan yang pesan teman-teman sendiri dari Metro,” kata dia, Minggu (26/9).

Menurutnya, layangan kini kembali digandrungi pasca pandemi dengan level tinggi mereda. Selain itu, musim layang-layang juga seiring dengan panen padi para petani sehingga areal persawahan dapat menjadi landasan pacu layangan.

“Di Metro kan sudah zona kuning dengan PPKM level 2, jadi mulai banyak lomba layang-layang diselenggarakan disana sehingga Alhamdulillah kita juga kebagian rezekinya, orang ada yang pesan layangan untuk lomba. Tapi rata-rata yang pesan untuk main sendiri,” ucap remaja yang akrab disapa Rama tersebut.

Remaja alumni SMK Gajah Mada Metro tersebut mengaku, hobinya membuat dan menerbangkan layang-layang telah ada sedari kecil. Ia bercerita, kala itu hanya sebatas bermain dan membuat layang-layang untuk dimainkan bersama teman-teman.

“Saya dan teman-teman sudah sejak SD buat layangan sendiri. Kalau untuk di ikutkan lomba baru beberapa kali ini, karena pas kebetulan lagi ramai layangan. Awalnya saya dan teman-teman buat layangan karena untuk diikutkan lomba, dan kita memang rutin buat setiap musim layangan. Jadi karena hobi, dari kecil memang sudah buat sendiri layangannya untuk main bareng teman-teman,” ujarnya.

Menurutnya sebagai pengrajin layang-layang, jika ingin layangan diikutsertakan dalam perlombaan maka lebih baik dibuat sendiri dengan keterampilan dan ketelitian. Sementara, bagi para peminat layangan yang ingin memesan, Rama membandrol harga mulai dari Rp. 10 hingga Rp. 50 Ribu.

“Kalau menurut kami lebih baik buat sendiri, karena ukuran dan jenisnya bisa kita tentukan sendiri. Untuk biaya yang dikeluarkan itu bervariasi, tergantung ukuran dan jenisnya. Kalau ada yang mesan kita baru buat, harganya juga bervariasi dari mulai 10 sampai 50 ribuan,” bebernya.

Rama tak sendiri, bersama kelompok remaja The Young Kejawen ia kerap menciptakan layangan sesuai pesanan. Salah satu rekannya ialah Ilham Aziz Saputra (17). Ia menerangkan, layangan karya mereka telah beberapa kali memenangkan perlombaan untuk kelas pemula.

“Kita sudah sering ikut lomba, Alhamdulillah sering juara tapi kecil-kecilan. Lombanya itu mulai dari malam hari sampai pagi, dan Alhamdulillahnya layangan kita tidak turun,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Nanda Satria Utama (20), sejumlah layangan yang mereka buat tak jarang menjuarai perlombaan. Sedikitnya terdapat delapan jenis layang-layang yang sering dipesan peminat layangan.

“Kita buatnya bareng bersama teman-teman disini. Keseringan 8 jenis layangan yang di buat, itu ada layangan namanya Pegon, Kupu -kupu, Bapangan Seriti, Bapangan Garuda, Bapangan Panjeran, Bagangan Janggan, Bebean dan Layangan Petekan, untuk ukurannya ada yang besar dan ada yang kecil,” tandasnya.

Diketahui, fenomena layang-layang mulai bergeliat sejak Metro berstatus zona kuning Covid-19 dengan penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 2. Hingga kini, sudah dua kali event layang-layang tergelar di Kota Metro yang berlokasi di wilayah Metro Utara. (Red3)

buana

buana

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *