Eksistensi Warung Soto Ditengah Pandemi
Mei 25, 2021
0 comments
Share

Eksistensi Warung Soto Ditengah Pandemi

1 0
Read Time:2 Minute, 36 Second

Buanalampung.com METRO – Ramai, begitulah yang terlintas dalam benak setiap pengunjung warung soto milik Nurlaila Sari (42) alias Mbak Ninung di Jl. Wolter Monginsidi Kelurahan. Yosomulyo, Kecamatan Metro Pusat.

Soto legendaris itu tetap eksis meskipun dalam situasi pandemi Covid-19. Rasa enak dan porsi melimpah mamun tetap murah itulah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi penikmatnya.

Warung soto yang dibuka sejak tahun 1995 itu sangat hits dikalangan penikmat soto dan pecel di Kota Metro. Sebegitu fenomenalnya, para calon pengunjung harus datang sebelum jam 2 siang agar dapat menikmati seporsi soto Mbak Ninung.

Meski sempat terdampak pandemi covid-19 pada tahun lalu, Ninung optimis jika sektor kuliner mampu bertahan dan berkembang. Bahkan, Ia pun berencana membuka cabang.

“Rencana gitu, cuma masih bingung sapa yang mau pegang. Anak pertama kedua sudah kerja semua, enggak ada yang mau usaha. Tinggal yang kecil ini masih sekolah. Bakatnya sih sudah keliatan, suka bantu di sini juga soalnya,” ucapnya.

Warung yang telah berdiri sejak 26 tahun silam tersebut tetap mempertahankan ciri khasnya, yaitu bangunan yang dihiasi geribik atau bilik bambu dan dinding papan sederhana. Warung itu beroperasi mulai pukul 07.30 WIB hingga pukul 14.00 WIB.

“Ya paling lama habis jam 2 siang. Cuma rata-rata jam 12.00 atau 13.00 WIB sudah habis,” kata Wanita yang akrab disapa Mbak Ninung tersebut, Selasa (25/5/2021).

Ia menceritakan, resep soto dan pecel buatannya merupakan warisan keluarga yang mulai dirintis kakek dan neneknya lalu diteruskan turun temurun oleh anak dan cucu.

“Dulunya punya Mbah, dikenalnya Soto Parmin di 21. Tapi sekarang sudah enggak ada. Sekarang, anak sama cucu terus buat. Jadi ada beberapa, namanya beda-beda, tapi resepnya sama semua. Kalau saya Soto Mbak Ninung,” kisahnya.

Ibu tiga anak itu mengungkapkan, setiap hari warung sotonya tersebut dapat menghabiskan 15 kilogram ayam atau setara dengan 200 porsi soto. Ia rata-rata memperoleh omset sebanyak Rp. 2 Juta per hari.

“Setiap hari 15 kilogram ayam atau setara 200 lebih porsi soto habis. Ini usaha keluarga, cuma kita minta tolong tetangga bantu-bantu. Kita mulai ini dari ponakan saya kecil sampai sekarang sudah punya anak. Harga satu porsi Rp 7.000 plus nasi, kalau gorengan 2.000 dapat tiga,” imbuhnya.

Wanita yang merupakan warga Jl. Sawo Kel. Yosomulyo, Kec. Metro Pusat itu mengaku sengaja memberi harga murah meriah, meski warungnya sudah ramai pelanggan.

“Untuk harga kita memang cari untung dikit yang penting jalan terus, makanya siang sudah habis. Nah, kalau bangunannya ya memang gini, gak mau dirubah, termasuk cat warna biru ini ya dari awal begini,” pungkasnya.

Seorang pengunjung mengaku menjadi pelanggan tetap soto Mbak Ninung lantaran rasanya yang nikmat dan harganya tetap bersahabat.

“Saya kalo makan soto pasti kesini terus. Disini enak, murah dan mengenyangkan karena porsinya pas. Disini rekomendet bagi penikmat soto untuk cicipin,” kata Aldo Tirta (28) warga Kel. Imopuro, Metro Pusat.

Hal senada dikatakan Bastian, warga Iringmulyo, Kec Metro Timur tersebut justru kerap datang ke Yosomulyo untuk sekedar menikmati soto Mbak Ninung bersama rekan-rekannya.

“Biasanya kita abis kumpul atau ngampus itu sering makan siang disini. Jam-jam 11.00 WIB itu kita rame-rame biasanya makan soto atau pecel disini,” tandasnya. (Red3)

haris

haris

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *