Antara Q Forest Dengan Penyelamatan Ekosistem Rawa Tubaba
Februari 17, 2021
0 comments
Share

Antara Q Forest Dengan Penyelamatan Ekosistem Rawa Tubaba

1 0
Read Time:1 Minute, 43 Second

Buana Media Lampung Tubaba- Hari demi hari semakin banyak terjadinya abrasi atau tanah longsor di sepanjang perairan Sungai Way Kiri Tulang Bawang khususnya, sungai Batang Hari yang melintasi kampung-kampung tua di Tulang Bawang Barat misalnya Tiyuh (kampung) Panaragan, Gunung Katun, Gedung Ratu, Penumangan, Karta, Pagar Dewa dan masih banyak kampung lainnya.

Bukan hanya abrasi, hilangnya ekosistem alami berada di rawa semisalnya tanaman asli rawa yang juga merupakan tempat tinggal alami hewan liar seperti burung- burung rawa, Beruang, Monyet, ular rawa. Ini semua disebabkan oleh penebangan liar yang dilakukan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab guna perluasan lahan pertanian di rawa tanpa adanya perbaikan kembali.

 

Foto: Rawa Batang Hari yang melintasi Kampung di Kabupaten Tulang Bawang Barat.(jz)

Sayangnya, hal ini sudah lama terjadi bahkan luput dari perhatian pemerintah setempat. Padahal dampak bencana yang ditimbulkan akan lebih besar dan sangat merugikan.

Mengingat program Bupati Tulang Bawang Barat Umar Ahmad S.P dengan program andalannya yakni Q Forest yang membawa pesan kepada seluruh pemimpin dunia betapa pentingnya penghijauan di bumi, namun sayangnya hal ini tidak tertangkap oleh memori otak para kepala desa di seluruh Tubaba apalagi kepala desa yang desanya dilintasi oleh aliran rawa tersebut.

Hal ini perlu dorongan agar dapat sejalan dengan pemikiran Bupati setempat dan perlu adanya semacam peraturan desa yang mungkin perlu tekanan atau dukungan dari pemerintah setempat terkait aturan mengenai hal ini.

Misalnya, Tanah Nyapah milik warga sepanjang aliran sungai atau rawa mungkin dapat ditanam pepohonan yang dapat melindungi abrasi atau tanah longsor di sepanjang tebing aliran sungai.

Penetapan antara Hak Ulayat desa
( antara tanah nyapah dengan tanah rawa ) dan hak warga desa juga dirasa penting. Guna administrasi yang jelas sehingga tidak ada lagi kerusakan ekosistem rawa yang disebabkan oleh perambahan hutan rawa secara liar tanpa memperhatikan antara tanah umum milik desa atau milik bersama dengan tanah milik pribadi.

Solusinya bila seperti itu harus dilakukan pendekatan kepada masyarakat terkait program yang di gadang-gadang tersebut, agar dapat diterima bahkan di dukung oleh semua kalangan pihak terkait. (Eds)

Sumber : Jazuli S.E

haris

haris

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *